Penantian seorang ayah

Malam itu seorang pria yang sudah hampir berumur 60 tahun berbicara dengan putrinya melalui via telfon. Ia menyampaikan keadaannya yang semakin hari semakin tua. Terkadang ia sakit, merasa sunyi dan bosan karena tidak ada teman berbincang. Ia kemudian menyampaikan permintaannya agar putrinya setelah menyelesaikan studinya di luar kota bisa kembali dan berkumpul bersama. Ia juga mengatakan jika kondisinya sedang tidak baik, alangkah sejuknya jika putrinya sendiri merawatnya. Kata-katanya sangat lembut namun terdengar menyindir dan sangat dalam menyentuh hati sang anak. Hingga di akhir perbincangan, sang ayah kemudian menyampaikan bahwa ia sedang menunggu anaknya kembali “cepatlah pulang nak”.

Kukira hanya perempuan yang menunggu. Kukira hanya perempuan yang dapat merasakan tidak enaknya penantian. Ternyata jauh dari perasaan tersebut ada seorang pria yang paling tersiksa menunggu dan menanti, yaitu ayah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: