Menyucikan Jiwa

Halo…

Malam ini saya mau sharing tentang perbincangan saya dengan bapak mengenai agama. Saya merasa semenjak berada di tempat baru, jiwa saya jarang disiram dengan suara adzan langsung dari masjid, lantunan ayat-ayat alquran dan dakwah-dakwah. Kebanyakan waktu saya akhir-akhir ini dihabiskan hanya berkutak dengan tugas yang menumpuk.

Hingga akhirnya bapak malam ini berbagi ilmunya lagi. Entah apa topiknya, bapak tiba-tiba menanyakan keadaanku dan kondisiku yang saat ini sudah tidak pernah mendengarkan adzan. Sedikit flashback, dulu tempat kosku berada di seberang dan sangat dekat dengan masjid. Sehingga pada saat masuk waktu sholat, suara adzannya kedengaran sangat besar. Akan tetapi saat ini kondisinya sangat berbeda.

Melalui via telpon Bapak berkata:
“Sebagai manusia kita butuh siraman rohani. Siraman itu kita dapatkan melalui pendengaran dan penglihatan. Oleh karenanya mengapa diberbagai surat Allah selalu diidentikkan bahwa Dia maha mendengar dan maha melihat? Itu karena kedua indra itu mampu memberikan pengetahuan. Terkadang  kita menganggap pengajian, membaca dan mendengarkan ceramah sudah tidak perlu dilakukan, karena sudah merasa banyak tahu. Padahal esensi kita membaca, mendengarkan cermah dan ikut kegiatan agama adalah sebagai bentuk pencucian jiwa kita. Coba lihat surah Asy Syams. Surah itu menunjukkan berbagai macam waktu, suasana dan kondisi. Allah memberikan kita kesempatan untuk menyucikan jiwa. Lihat arti yang berbunyi (Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya). Kalau kita pahami kata-kata itu, sesungguhnya Allah SWT memberikan kita keleluasaan, hak dan kebebasan untuk memilih mau menyucikan atau mau mengotori jiwa. Allah SWT memberikan kita berbagai kondisi waktu yang dapat kita gunakan untuk menyucikan jiwa. Itu tergantung dari kita sebagai manusia. Melalui pendengaran dan penglihatan kita bisa menyucikan jiwa”.

Menutup sharing ini saya ingin berbagi pengalaman. Saya sering melihat dan mendengar ceramah melalui youtube. Cermah yang sering saya dengar itu dari ustad Yusuf Mansyur. Kadang-kadang ada satu topik cermah yang sering saya nonton berulang-ulang kali. Proses pengulangan itu tidak lain karena terkadang saya tidak menemukan maksud ceramahnya, hati saya tidak melakukan pembenaran dan penalaran terhadap isi ceramah itu. Tetapi biasanya dipengulangan berikutnya, ada suatu masa atau titik dimana tiba-tiba otak dan hati saya bekerja bersama-sama untuk menerjemahkan maksud cermah itu dan kemudian seperti terinternalisasi dalam jiwa saya agar saya bertindak lebih baik. Ini kali ya salah satu contoh yang bapak saya katakan bahwa meskipun kita sudah tahu, pengulangan untuk membaca dan mendengarkan ceramah merupakah hal yang harus kita lakukan, dengan tujuan membersihkan jiwa. Kita tidak tahu dalam kondisi apa, dimensi apa hati kita tiba-tiba tersentuh dan mau menghayati maksud suatu pengetahuan.

Semoga bermanfaat ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: