Pengalaman dan didikan

Kemarin tanggal 1 Juli 2017, dari pagi hingga siang menjelang sore, waktu sy dan keluarga banyak digunakan untuk membesuk kerabat dekat. Paginya sy, kakak dan mama membesuk tetangga yg baru saja melahirkan, trus siangnya membesuk kakek yg sedang dirawat di RS karena beliau menderita stroke. Kebiasaan menjenguk keluarga maupun tetangga sudah menjadi agenda yg harus dilakukan bersama-sama, karena menurut bapak kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menambah kedekatan dan memperoleh ilmu dari pengalaman orang lain. Bapak pernah memberitahukan kepada sy, kakak dan mama bahwa ada hikmah dibalik membesuk orang sakit, yaitu pentingnya menjaga dan mesyukuri kesehatan. Begitupun sebaliknya, adanya bayi yg baru lahir harus jg disyukuri dengan menjaga dan mendidiknya.

Mendidik anak bukan suatu eksperimen coba2 untuk menerapkan suatu metode, melainkan suatu proses untuk memperlakukan anak-anak tanpa memakai topeng, atau mengonta-ganti metode mendidik hanya untuk melihat metode mana yg terbaik. Bapak sy pernah mengatakan kalau dia mendidik sy dan kakak tanpa kepura-puraan, jika ia sayang, maka ia akan katakan sayang ke sy dan kakak, namun jika ia marah, maka ia akan betul-betul marah untuk memperbaiki perbuatan yg salah. Semuanya tanpa pura2, pura2 marah atau sayang.

Sejak kecil hingga sy dan kakak dewasa, bapak memang sangat memanjakan kami, namun ia jg menyampaikan kepada sy dan kakak kalau rasa manja itu hanya boleh ada dan nampak di dalam rumah. Jika di luar rumah sy dan kakak harus menjadi mandiri, tidak boleh menyusahkan orang lain, tidak boleh berharap dan bergantung dengan orang lain, kecuali kalau memang sangat-sangat butuh bantuan. Begitulah separuh cerita proses didikan dalam keluarga saya dan masih banyak lagi.

Dalam tulisan ini, sy ingin membagikan pengalaman sy bercerita dengan adik sepupu sy bernama Rafasya yg sy lakukan siang kemarin (1 Juli 2017) setelah sholat dhuhur di masjid RS tempat kakek sy dirawat. Jadi, setelah sholat dhuhur, mama, om dan tante saya sedang duduk di pelataran masjid, sy pun ikut dukuk di dekat mereka. Kebetulan adik sy Rafasya juga ikut duduk di samping sy. Nah pada saat itu, sy teringat dengan pernyataan beberapa psikolog yang pernah sy dengar di tv maupun yg sy baca di media online mengenai pentingnya mengajak ngobrol anak kecil untuk menumbuh kembangkan pola dan cara berpikirnya. Sy kemudian tertarik untuk melakukannya dengan memulai obrolan yg sebelumnya telah sy lakukan sebelum sholat dhuhur bersama Rafasya. Sy menanyakan bagaimana sekolahnya (ia pun menjawab dengan antusias dan sesekali menaikkan matanya seolah2 berpikir, lucu sekali, sebenarnya sy hampir tertawa, tapi sy berusaha menahannya untuk menghargai adik sy yg bercerita). Kemudian sy bertanya buku2 apa yg sudah ia baca, apa isi bukunya, apa gambar bukunya, bagaimana ia memilih buku yg ia ceritakan sedangkan di toko buku ada banyak buku yg bagus, kenapa tertatik dengan buku itu. Semua itu sy tanyakan. Masih dengan mimik yg sama ia begitu serius menjelaskan ke sy. Kadang2 jawabannya agak ngawur dan melenceng dari pertanyaan, tapi ada pengalaman yg sy dapatkan bagaimana memperlakukan anak kecil (setidaknya membuktikan statement para psikolog), dan benar apa yg disampaikan sebagian para psikolog kalau anak2 kecil itu harus sering diajak bercerita, diajak membaca, dan diajak ke tempat2 yg bermanfaat seperti kebun binatang atau musium agar mereka berpikir tentang apa yg mereka lihat. Adik sy salah satunya.

Ketika sy bercerita dengan adik saya Rafasya, sy melihat dia berusaha untuk berpikir mengingat pengalaman2nya ketika membeli buku dan ada satu kata yg sy sempat kaget mendengar keluar dari mulutnya yaitu ‘satu kesatuan’ hah? Hehehe jdi dia bercerita pada saat membeli buku di toko buku, dia melihat suatu kesatuan buku, suatu kesatuan buku itu maksudnya buku berseri yg dipaketkan menjadi satu dan berisi 4 jenis buku (masing2 buku ada covernya, ada cover buah2han, hewan, trus dua buku lainnya dia lupa covernya, tpi dia hanya ngambil yg cover buah2han dan hewan) hehehe.

Never stop to read a book, because a book can show you everything and don’t stop telling a story to your children because they are need it to grow up and improve their personality to be a smart human with experience and knowledge

Semoga bermanfaat untuk para ibu2 yg memiliki anak2 kecil. Jangan disia-siakan anakanya. Didiklah mereka agar menjadi orang yang bermanfaat dalam kebaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s