Payung yang menganggur

Sore itu, setelah azhar di suatu masjid, hujan begitu deras dan udara sangat dingin menembus baju tebalku. Aku menatap langit yang ditemani awan hitam. Kutarik sendalku yang basah kejatuhan air dari langit. Aku menggoyang-goyangkannya yang didominasi warnah putih agar airnya terjatuh. Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku lalu menawarkan payung berwarna kuning. Wajahnya sangat bersinar bak lampu yang menyilaukan mata. Aku bertanya dalam hati dari mana asalnya anak ini. Seperti mengetahui isi hatiku, ia lalu tersenyum dan menaruh payung itu kemudian berlari dan bayangannya tak terlihat lagi. Aku melihat payung itu beberapa menit, kemudian aku mengambilnya dan kuselipkan di lengan tangan kananku. Aku tidak menggunakannya, kubiarkan saja menganggur. Bisikku dalam hati “payung dari malaikat langit”.

Etika

Mama selalu mengatakan kepada dua putrinya bahwa etika menjadi salah satu perhiasan setiap manusia baik dia laki ataupun perempuan.

Siang ini saya mempelajari etika dalam konteks bisnis, dan kebetulan saya membaca suatu pernyataan yang di tuliskan Velasquez melalui bukunya, ia sendiri terkejut mengetahui bahwa ternyata melalui perfect market competition konsep etika juga digunakan. Konsep tersebut antara lain utility, justice dan rights.

Konsep etika menurutku telah ada di setiap diri individu sejak ia lahir. Oleh karena itu lingkungan individu sangat membantu pembentukan etikanya.

Hujan

kAir yang jatuh dari langit tidak menandakan bahwa ia lemah.
Air yang jatuh dari langit tidak menandakan bahwa ia sakit.
Namun air yang jatuh dari langit ingin menunjukkan bahwa ia jatuh karena perintah Penguasa Semesta.
Ia jatuh karena ingin menyejukkan tanah yang kering dan resah, kepanasan disinari matahari.
Ia jatuh karena ingin menumbuhkan tanaman.
Ia jatuh karena setelahnya akan ada langit biru.