Mencintai Allah

20170627_193230
Suatu kalimat terpampang rapih di dinding, bertuliskan “hidup adalah proses untuk jatuh cinta kepada Allah berkali-kali”.
Entah kenapa, ketika melihat kalimat itu, pikiranku mulai melayang meninggalkan dunia ini, seakan-akan mereka membawaku berjalan jauh untuk menelusuri makna kebahagiaan dan kesedihan, makna kecukupan dan kekurangan, makna kesempurnaan dan keidaksempurnaan.
Seolah-olah semua kata-kata itu berbicara kepadaku bahwa mereka hidup, mereka hidup untuk makna yang lebih besar yaitu kesyukuran.
Syukur yang terkadang diabaikan, sehingga cinta itu redup dan membuat Allah ingin menyalakannya lagi dengan sedikit sentuhan kegelisahan agar aku kembali merindukanNya.
Akupun tersadar bahwa tugasku hanya satu, yaitu jatuh cinta kepada Allah berkali-kali setiap harinya, apapun kondisinya agar aku bisa merasakan hadirNya kemudian bersyukur atas segala hal yang terjadi padaku atas izin dan kehedakNya.

Advertisements

Menunggu dan Merenung

Semenjak berada di Yogyakarta, ini kali pertama sy menjemput teman sy yg sudah sy anggap saudara saya. Dia adalah perempuan periang dan berani, yg berasal dari Aceh. Kalau dekat dengannya berasa selalu pengen bahagia, itu salah satu keunikan yg jarang sy temukan pada diri seseorang.

Sekarang sy sedang berada di Bandara menantinya (seorang diri, sedih kali…). Sambil menunggu, lebih baik sy menulis tentang kebesaran Allah. Ini adalah tema yang sangat sy sukai. Menulis segala hal tentang Allah membuat sy menulusuri perasaan sy ke Tuhan yg Maha Kuasa.

Di bandara ini, sy melihat ada banyak orang yg pasti berlatar belakang berbeda dgn sy, dan tujuan yg berbeda pula. Hal yang membuat sy tertarik adalah melihat segala gerak-gerik mereka. Ada yg kelihatan bosan, ada yg happy2 aja sendiri (seperti sy), ada yg asik ngobrol, ada yg main hp, dan ada yg sibuk nulis di hp (hehehe that was me).

Sambil menulis dan melihat orang2 itu, sy kemudian berpikir, Maha Besar Allah yg telah menaruh suatu benda unik yaitu otak di dalam diri manusia. Kemudian, otak itu mampu menjadi pusat penggerak manusia. It is amazing, isn’t it?. Bagaimana bisa seorang manusia dapat sombong dan angkuh, jika otak saja yg kecil tidak dapat dibuat. Bagaimana bisa manusia sombong dan angkuh jika setipis kuku saja tidak dapat ditumbuhkan. Maha Besar Allah atas segala ciptaannya.

Segala hal yg tertulis merupakan renungan untuk diri penulis.

Yogyakarta, 9 Agustus 2017, pukul 7.13 pm.

Kusebut itu Ketenangan

Setiap hari adalah hari baru. Hari dimana kita bangkit dari tidur singkat. Kemudian bergegas melihat dunia yang masih berselimuti langit gelap.

Di sepertiga malam sang Penguasa mendekatkan diriNya pada tiap-tiap insan manusia yang menghadapnya dalam gerakan indah yaitu sholat.

Takbiratul ikram yang bermakna kebesaran Ilahi terucap lantang dari mulut-mulut hambanya yang meyakini kehadirannya.
Engkau datang Tuhan.
Engkau datang mendengar permintaan hambamu yang sangat lemah.

Lantunan ayat-ayat suci telah terucap merdu dalam keheningan malam, diiringi gerakan jarum jam yang berjalan melewati angka-angka tiap detiknya. Sungguh atas kuasaNya, semua hidup dan mati.

Daun-daun yang menari indah di luar kamar adalah buktianya jika seorang hamba sedang menghamba pada Rajanya yg kuasa. Meminta dan merayu dengan segala ingin dan harapan untuk dikabulkan.
Terkadang diri malu dihadapan Mu Robb…

New Day

Jika besok kita masih diberikan kesempatan untuk melihat dunia, maka ucapkanlah syukur dan pujilah kebesaran Allah, karena Ia masih memberikan kita hari yang baru dengan semangat yang juga baru.

Hari baru yang telah diberikan layaknya selembar kertas putih, beserta penanya Allah memberikan kita berbagai macam warna. Apakah kita akan menggunakan satu macam warna hitam saja, atau berbagai macam warna.

Semuanya adalah pilihan.

Sayang rasanya, jika hanya menggerutu dan menyesali segala kejadian yang telah berlalu. Toh, itu juga tidak akan kembali.

Sambutlah hari baru itu dengan senyuman dan harapan. Lapangkan dada dari berbagai macam kesakitan hati. Dekatkanlah diri dengan yang Maha Mampu Menjadikan, karena dengan bersama Sang Penguasa tidak akan ada jalan buntu.

Motivasi untuk diri sendiri ^_^

Payung yang menganggur

Sore itu, setelah azhar di suatu masjid, hujan begitu deras dan udara sangat dingin menembus baju tebalku. Aku menatap langit yang ditemani awan hitam. Kutarik sendalku yang basah kejatuhan air dari langit. Aku menggoyang-goyangkannya yang didominasi warnah putih agar airnya terjatuh. Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku lalu menawarkan payung berwarna kuning. Wajahnya sangat bersinar bak lampu yang menyilaukan mata. Aku bertanya dalam hati dari mana asalnya anak ini. Seperti mengetahui isi hatiku, ia lalu tersenyum dan menaruh payung itu kemudian berlari dan bayangannya tak terlihat lagi. Aku melihat payung itu beberapa menit, kemudian aku mengambilnya dan kuselipkan di lengan tangan kananku. Aku tidak menggunakannya, kubiarkan saja menganggur. Bisikku dalam hati “payung dari malaikat langit”.

Indonesia adalah Kita yang Beragam

Hari ini aku berpijak di atas tanah milik Indonesia
Mengarungi hidup bersama keluarga tercinta
Ada yang merantau pergi meninggalkan tanah air demi mimpi untuk Indonesia
Namun ada pula yang pergi lalu tak kembali kemudian melupakan Indonesia

Wahai kau para pemuda dan pemudi, masa depan bangsa Indonesia berada di tangan kita. Meskipun kita jauh dan pergi meninggalkan Indonesia, ia tetap membukakan pintunya untuk kita kembali.

Wahai kau para pemuda dan pemudi Indonesia. Indonesia adalah tanah air kita yang penuh kesantunan dan keramahan. Jangan kau rusak dengan suatu ambisi yang membuatnya terlihat kasar dan mudah rapuh.

Wahai kau para pemuda dan pemudi Indonesia. Indonesia adalah pelangi yang penuh keberagaman, jangan kau hilangkan salah satu warnanya karen itu akan membuatnya tidak indah lagi

Indonesia adalah kita. Kita yang berbeda namun tetap dalam satu tujuan, kita yang tak sama namun tetap bisa hidup berdampingan dalam satu kata yaitu bhineka tunggal ika.

Sederhana

Sederhana. Aku suka kata-kata itu. Ada yang mengatakan “cintai aku dengan sederhana”, “jalani hidupmu dengan sederhana” dan “jadilah manusia yang sederhana”. Kata-kata sederhana membuatku melihat sesuatu yang tidak berlebihan namun juga tidak kekurangan. Intinya sederhana. Seperti gambar di atas, lihatlah dengan cara yang sederhana.