Mimpi yang tertunda

InkedScreenshot_20180225-215742_LI

Mendapatkan surat penerimaan untuk mengikuti konferensi internasional adalah salah satu mimpi sy dan rekan sy (namanya ada di atas). Planning untuk presentasi nasional dan internasional telah lama kami persiapkan, sejak semester 3. Tapi, di detik-detik keberangkatan dan pengurusan tiket, sy pribadi terkendala beberapa hal (restu orang tua, keuangan, dan adanya ikatan penelitian untuk hibah penelitian dengan dosen pembimbing), jadinya sy tidak dapat berangkat bersama rekan sy.

Hikmah yang ingin sy sampaikan dari pengalaman sy di atas yaitu, sekuat apapun usaha kita di dunia, dibandingkan Ke Esa-an Allah, itu tidak ada apa-apanya. Jika Allah telah berkehendak, apapun caranya tidak akan mungkin terjadi tanpa seizinNya.

Restu dan ridho orang tua juga sangat penting. Terkadang mereka hanya berdoa sekali, tapi doanya langsung menembus berbagai lapisan langit.

Bagi sy mimpi ini hanya tertunda dalam waktu yg belum ditentukan, tetapi Allah telah jauh-jauh hari menentukannya. Sy yakin, suatu saat nanti, Insha Allah sy akan mengunjungi berbagai negara dengan keluarga dan orang yg sy cintai. Ini hanyalah masalah waktu yang belum pas 😀

From my personal blog, I wolud like to say sorry to My Friend and also has been my partner in doing research.

Advertisements

Mulai dari Nol ya

                                                                                                Kategori: Sweet Experience

Screenshot_20180224-192703
Kisah nyata yang  membuka mata saya bahwa harta dan tahta bukanlah segalanya untuk bahagia. Cerita ini sy awali dengan gambar yg sy temukan di akun Instagram, lalu sy terpikir untuk menuliskan kisah kedua orang tua sy. Sebenarnya kisah ini sudah lama sy desain di memori sy, hanya saja, akhir-akhir ini sy tengah disibukkan dengan proses penyelesaian tesis sy. Oh ya, sy minta didoakan agar semua proses penyelesaian sy diberkahi dan dilancarkan oleh Allah SWT.

Memulai berkeluarga dengan bekal keuangan seadanya.

Bapak sy adalah anak paling tua di antara keenam saudaranya. Sejak SMP, bapak sy sudah mulai merantau dari pulau kecil ke kota Makassar. Ia mulai merencanakan hidupnya di usia yang menurut sy masih kecil yaitu sekitar 12 tahun. Menurut cerita bapak, sejak kecil ia memang ingin hidup terpisah dari orang tuanya, bukan karena ia tidak sayang dan rindu, tapi menurutnya anak laki-laki itu harus berani mengambil berbagai resiko dan menyusun mimpi-mimpinya sendiri tanpa harus melibatkan siapapun, karena baginya ini adalah persiapan untuk menjadi pemimpin keluarga. Ketika memilih untuk merantau, bapak hanya meminta doa kepada kedua orang tuanya, bagi bapak, doa orang tua adalah pembuka berbagai jalan kebaikan. Oleh karena itu, sedikit saja goresan untuk mereka, maka jalan hidup yg ingin kita lalui akan dijatuhi batu-batu besar, sehingga kita kesulitan berjalan bahkan mungkin tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Setelah melanjutkan berbagai jenjang pendidikannya, di usianya yg ke 29 tahun, ia telah menjalani berbagai pengalaman hidup khususnya dalam pekerjaan, mulai dari mengajar akuntansi, bekerja di berbagai perusahaan kecil dengan upah yang sedikit hinggah menjadi direktur keuangan termuda di perusahaan yang memproduksi rotan di Makassar. Tapi, tunggu dulu, bukan karena dia berkerja dan mendapatkan posisi tinggi lantas keuangannya baik, tidak, terkadang ia tidak digaji beberapa bulan. Padahal waktu itu, bapak telah menikah dengan mama dan memiliki satu anak yaitu kakak saya yg masih butuh-butuhnya biaya hidup, dan pada saat itu mama sy juga belum memiliki pekerjaan karena hanya bergelar D3 ilmu gizi. Jika bercerita dengan mama, ia terkadang mengatakan bahwa dulu semuanya serba susah dan serba terbatas, tapi katanya semuanya harus dinikmati, harus dirasakan dan harus sabar.

Berselang lebih dari tiga tahun, sy pun lahir. Biaya hidup yang harus ditanggung bapak mulai bertambah, bapak pun tidak ingin meminta sedikit bantuan dari kedua orang tuanya.  Dan masih tetap sama, mama sy belum mendapatkan pekerjaan, mama sy hanya berfokus mendidik anak-anaknya. Bagi mama, mendidik anak-anaknya dengan tangannya sendiri adalah kesempatan yang berharga dan tidak datang dua kali.

Waktu terus berjalan, bapak kemudian mengundurkan diri dari pekerjaannya di usia 35 tahun, ia lalu mendaftar di salah satu perusahaan asuransi kesehatan di Indonesia dan pada saat itu batas usia yg disyaratkan tepat 35 tahun. Alhamdulillah bapak diterima. Rencana Allah memang selalu indah. Semenjak diterima di perusahaan tersebut, bapak mulai mengatur hidup keluarganya dengan detail, dan bapak memang adalah pria yang sangat hati-hati tetapi sangat tegas dan berkomitmen tinggi untuk tugas yang diemban. Dibalik rencana bapak dan mama yang ia tekankan, bagaimana anak-anaknya memiliki keseimbangan antara dunia dan akhiratnya. Dalam mengejar pendidikan, bapak dan mama tidak pernah memaksa anak-anaknya mengejar prestasi, baginya berbuat baik dan senang membantu orang dalam kebaikan adalah hal utama yang selalu mereka sampaikan dan membuatnya lebih bangga.

“Tidak apa-apa semua barang yang dimiliki rusak yang penting persaudaraan tetap terjaga dan hati tetap lapang menerima segala bentuk keburukan orang kepada kita, ditenangin aja”, kata bapak.

Waktu kecil, di saat kehidupan keluarga sy masih pas-pas an, sy masih mengingat bagaimana mama sy mendidik sy untuk sabar dengan segala hal yang dipinta dan menerima sesuatu meskipun tidak sesuai dengan harapan yang sy inginkan. Contohnya, di saat usia sy kurang lebih 8 tahun, sy dan mama pernah melewati toko kue yang terlihat lumayan menggoda anak kecil seusia sy. Tanpa mengetahui isi dompet mama, sy meminta agar mama membelikan kue itu, tapi dengan lembutnya mama hanya mengajak sy pulang dan meminta sy membantunya membuat kue seperti yg ada toko. Akhirnya kami pun pulang dan membuat kue bersama-sama dan hasilnya berbeda, “ini versi kita”, kata mama. Sering kejadian ini terjadi. Mama sy adalah wanita kuat dan sangat kreatif mendidik anak-anaknya. Ia adalah perempuan penyabar yg setia mendampingi bapak. Hingga sekarang, sy sering bertanya dengan diri sy sendiri mama sy terbuat dari apa sih, kok kuat banget, seperti tidak ada letihnya untuk mengurus anak-anak dan suaminya.

Bapak dan mama sy adalah dua insan manusia yang diciptakan oleh Allah dan ditakdirkan bersama, untuk menjalani berbagai suka duka kehidupan sejak mereka masih nol dan tidak ada apa-apanya. Saya belajar dari mereka tentang arti kesetiaan, kerjasama dalam keluarga, sabar melalui kerasnya detakan pergeseran jarum jam dan terus berbagi kebahagiaan di tengah kesempitan hidup yang dihadapi. Keluarga kecil yg sy miliki sekarang adalah harta termahal dari Allah yang tidak dapat ditukarkan oleh apapun.

Nafsu

Kategori: Puisi

Dulu aku bermimpi menjadi orang besar
Disanjung, dipuja dan dipenuhi segala pintanya
Sekarang, aku merasakannya
Dikawal ketika berjalan
Dilindungi di saat tangan ingin berjabat

Sungguh
Ini membuatku terkekang dalam kebebasan
Ingin rasanya melepas jubah kehormatan

Manusia memang kompleks
Banyak mau dan tak ada puas
Tidak cukup hanya satu, dua hingga seribu khayal yang harus dipenuhi
Selalu ingin mencari lagi, hingga lupa bahwa ia punya kemurniah hati

Kukatakan pada diriku
Hentikan semuanya
Karena jika terus diikuti
Ia akan membara menghanguskan diri

Renungan hidup

Kategori: Puisi

Bangun
Tak usah berlama-lama tidur
Panggilan Tuhan telah berkumandang
Sucikan dirimu dengan air yang dingin
Lalu menghadaplah padaNya

Rasakan
Nikmatnya udara subuh yang sejuk
Sebagai tanda kebesaraNya
Agar makhlukNya merasakan kuasaNya
Yang mampu membolak balikkan hati
Serta menganti hari demi hari

Bergegaslah
Mencari rezekiNya
Karena Ia telah berjanji dalam kitabNya
Menghadirkan pagi untuk menyebarkan rezeki
Memunculkan malam agar beristirahat menghilangkan letih

Kembalilah
Karena bermain di dunia ada batasnya
Tak ada yg menyadari jika maut senantiasa mengikuti, untuk menarik jiwa yang ada di dalam diri

Ibu Kota

20171231_180853
Ibu kota dengan segala kerumitannya telah menunjukkan bahwa gedung-gedung penantang langit tidak memuaskan keinginan mataku yang selama perjalanan merindukan adanya langit yang tetap terlihat di atas dan pohon-pohon hijau sebagai peghiasnya.

Ibu kota dengan segala permasalahannya telah menunjukkan bahwa banyaknya mobil-mobil berkelas tinggi tidak dapat mewujudkan keinginan hidungku dan hidung masyarakat lain yang merindukan bersihnya udara yang dihirup.

Ibu kota dengan segala keramaian, kesibukan, dan kelelahan telah diubah wajahnya semenarik mungkin hanya untuk memenuhi syahwat mereka yang haus akan materi dan tahta kekuasaan. Kealamiannya hanyalah suatu kenangan yang telah menjadi sejarah bahwa ia pernah seperti kota-kota lainnya yang hijau dengan orang-orang yang berjalan dengan sapaan dan senyuman tanpa gadget dihadapannya.

Jangan berharap

Sejak kecil bapak selalu mengajarkan kepada dua putrinya untuk tidak pernah berharap dengan siapapun, kecuali berharapnya kepada Allah. Menerima bantuan dari manusia itu boleh ketika memang sangat terdesak ingin dibantu, namun jika masih merasa mampu, maka upayakan dulu dengan cara terbaik yg bisa dilakukan.

Pola didikan itu terus terbawa hingga sekarang, ketika sy dihadapkan pada beberapa hal yg menyulitkan, maka sy membiasakan diri untuk mencari tempat bersujud. Awalnya hanya merasa biasa saja, tpi pola ini tanpa sadar telah membimbing saya untuk mengenal Pencipta sy yaitu Allah SWT. Kemudian pengenalan itu berlanjut hingga membentuk keyakinan pd diri sy bahwa everything happen for a reason, and Allah knows the reason, Allah knows the solution of my problems. Keyakinan dan pengetahuan itu yg membuat sy menjadi perempuan yg Alhamdulillah jarang galau sampe update status. Ya , karena sy updatenya kepada Allah, dan seketika Allah memberikan bantuannya, entah itu berupa ketenangan ataupun kekuatan.

Terkadang sy menyadari dan membenarkan apa yg dikatakan mba GitaSav (seorang vlogger yg sedang kuliah di Jerman) bahwa jika manusia dihadapkan pada pilihan makan atau hidayah, maka lebih baik ia memilih tidak makan daripada tidak mendapatkan hidayah sedikitpun. Kedengarannya agak klasik, tapi itu benar dari apa yg sy alami. Ketenangan itu jauh lebih diperlukan untuk menjalani hidup ini dibandingkan materi dan harta yg dimiliki. Ketenangan itu jauh lebih mahal dari segalanya. Dan hanya dengan Sholat ketenangan dapat dirasakan.

Allahu Akbar.
Dia Maha Besar
Jangan pernah ragu kepadaNya
Dia Maha Mendengar
Sampaikan semua keluh kesah yg terjadi
Dia Maha Mengetahui
Walaupun kau menyembunyikannya
Karena Dia adalah Allahu Akbar.

Mencintai Allah

Suatu kalimat terpampang rapih di dinding, bertuliskan “hidup adalah proses untuk jatuh cinta kepada Allah berkali-kali”.
Entah kenapa, ketika melihat kalimat itu, pikiranku mulai melayang meninggalkan dunia ini, seakan-akan mereka membawaku berjalan jauh untuk menelusuri makna kebahagiaan dan kesedihan, makna kecukupan dan kekurangan, makna kesempurnaan dan keidaksempurnaan.
Seolah-olah semua kata-kata itu berbicara kepadaku bahwa mereka hidup, mereka hidup untuk makna yang lebih besar yaitu kesyukuran.
Syukur yang terkadang diabaikan, sehingga cinta itu redup dan membuat Allah ingin menyalakannya lagi dengan sedikit sentuhan kegelisahan agar aku kembali merindukanNya.
Akupun tersadar bahwa tugasku hanya satu, yaitu jatuh cinta kepada Allah berkali-kali setiap harinya, apapun kondisinya agar aku bisa merasakan hadirNya kemudian bersyukur atas segala hal yang terjadi padaku atas izin dan kehedakNya.